Kabupaten Pinrang
Mengenal Lebih Jauh Potensi Kelurahan Tellumpanua
Potensi sektor pertanian di Kelurahan Tellumpanua terkonsentrasi di wilayah Lingkungan Lappa-Lappae. Komoditas utama yang dihasilkan meliputi beras, palawija, dan berbagai jenis sayur-mayur, yang berasal dari lahan pertanian milik keluarga dan telah dikelola secara turun-temurun. Seluruh lahan sawah di kawasan ini masih bergantung pada air hujan (tadah hujan), sehingga penanaman padi hanya dapat dilakukan satu kali dalam setahun.
Potensi perkebunan di Kelurahan Tellumpanua mencakup berbagai jenis tanaman seperti jambu mete, kelapa, timun suri, nanas, nangka, mangga, dan lainnya. Kegiatan perkebunan di wilayah ini umumnya masih dilakukan secara tradisional dan berfungsi sebagai sumber pendapatan tambahan bagi keluarga.
Di Kelurahan Tellumpanua, khususnya di Lingkungan Labili-Bili, terdapat banyak pergudangan yang mendukung aktivitas ekonomi dan distribusi barang, terutama hasil produksi lokal. Kawasan ini juga dikenal sebagai sentra industri bata merah, di mana sebagian besar penduduknya terlibat dalam proses produksinya. Bata merah yang dihasilkan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan lokal, tetapi juga dipasarkan ke Kota Parepare dan Kabupaten Sidrap.
Selain industri bata merah, di Tellumpanua juga berkembang usaha pembuatan mebel yang dikelola secara mandiri oleh warga setempat. Di samping itu, terdapat pula industri rumahan seperti produksi asam mangga, yang turut menjadi bagian dari mata pencaharian masyarakat dan menambah keragaman aktivitas ekonomi di wilayah ini.
Di wilayah Kelurahan Tellumpanua terdapat beberapa usaha peternakan ayam petelur dan ayam potong yang dikelola oleh masyarakat setempat. Selain itu, terdapat kelompok tani ternak sapi yang memiliki potensi besar dalam pengembangan peternakan di daerah ini. Secara umum, kegiatan peternakan masih dijalankan secara tradisional. Masyarakat juga memelihara ternak lain seperti ayam kampung dan bebek sebagai sumber tambahan untuk mendukung ekonomi rumah tangga.
Di wilayah Kelurahan Tellumpanua terdapat sejumlah usaha keramba ikan dan kolam empang yang dikelola secara tradisional oleh masyarakat setempat. Pengelolaan ini masih bersifat sederhana dan langsung dijalankan oleh warga, khususnya mereka yang bergerak dalam kegiatan budidaya perairan. Di sekitar perairan dan muara Tellumpanua juga terdapat potensi perikanan yang cukup melimpah, termasuk komoditas seperti ikan, udang, kerang, kepiting, serta hasil laut lainnya.
Selain perikanan tangkap, masyarakat juga mulai memanfaatkan wilayah pesisir untuk budidaya rumput laut sebagai salah satu sumber penghidupan. Hasil dari aktivitas ini umumnya dipasarkan ke berbagai tempat seperti pasar di Kota Parepare, Pasar Kariango, maupun dijual langsung oleh warga di sepanjang jalan provinsi yang melintasi wilayah ini, dengan memanfaatkan area depan rumah sebagai tempat penjualan.
Di Kelurahan Tellumpanua terdapat tiga lokasi pertambangan batu kapur yang masih dikelola secara tradisional. Aktivitas pertambangan ini dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber pendapatan tambahan untuk menunjang perekonomian keluarga.
Kelurahan Tellumpanua memiliki potensi strategis sebagai daerah hinterland atau kawasan penyangga bagi Kota Parepare. Lokasinya yang berbatasan langsung dengan Parepare menjadikan Tellumpanua berperan penting dalam mendukung kebutuhan kota, baik dari segi suplai bahan bangunan, tenaga kerja, maupun hasil produksi lokal. Salah satu wujud nyata dari peran ini adalah penyediaan lahan untuk permukiman dan perumahan. Saat ini, telah berdiri dua kawasan perumahan di Tellumpanua, yang menandakan mulai berkembangnya kawasan ini sebagai alternatif hunian bagi masyarakat yang beraktivitas di Parepare, terutama karena ketersediaan lahan yang luas dan harga tanah yang lebih terjangkau.
Selain itu, berbagai sektor ekonomi lokal di Tellumpanua turut memperkuat fungsinya sebagai hinterland. Aktivitas seperti industri bata merah, peternakan ayam dan sapi, pertambangan batu kapur, serta industri rumah tangga seperti mebel dan produksi asam mangga masih dijalankan secara tradisional, namun memberikan kontribusi nyata terhadap ekonomi rumah tangga dan kebutuhan pasar regional. Banyaknya gudang penyimpanan di Lingkungan Labili-Bili juga memperkuat posisi Tellumpanua sebagai simpul distribusi barang, menjadikannya kawasan penyangga yang penting bagi pertumbuhan wilayah sekitar, khususnya Kota Parepare.
Kelurahan Tellumpanua memiliki beragam potensi pariwisata, baik yang bersifat alam maupun sejarah, yang mencerminkan kekayaan budaya dan keindahan lingkungan setempat. Untuk wisata alam, Tellumpanua dikenal memiliki beberapa destinasi menarik seperti Permandian Buton dan kawasan perbukitan Padangge hingga Puncak Gunung Bonrongi. Permandian Buton merupakan sumber air alami yang ramai dikunjungi masyarakat, khususnya pelajar setempat pada akhir pekan. Namun, karena belum dikelola secara optimal, daya tarik wisata ini masih terbatas pada pengunjung dari sekitar wilayah. Selain itu, di perbatasan Lingkungan Lappa-Lappae dan Labili-Bili, terdapat sebuah jembatan yang melintasi muara di jalan poros provinsi. Jembatan ini kerap dijadikan tempat rekreasi memancing oleh warga dari Pinrang, Parepare, hingga Sidrap. Sementara itu, Gunung Bonrongi menjadi favorit bagi para pecinta wisata alam dan kegiatan perkemahan. Dari puncaknya, pengunjung dapat menikmati panorama hamparan sawah yang luas serta pemandangan pelabuhan dan kapal-kapal nelayan di Kota Parepare.
Selain wisata alam, Tellumpanua juga memiliki destinasi wisata sejarah yang bernilai tinggi. Di Lingkungan Lappa-Lappae terdapat Monumen Perjuangan 45 yang masih terpelihara dengan baik, lengkap dengan relief diorama perjuangan dan patung pahlawan lokal, Bau Massepe. Di puncak Gunung Bonrongi, berdiri pula sebuah tugu peringatan yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat setempat. Tugu tersebut didirikan untuk mengenang pertempuran heroik Laskar Bau Massepe yang terjadi pada 3 Februari 1946, ketika mereka mempertahankan kampung dan perkebunan kapas dari serangan pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Raymond Westerling. Pertempuran yang berlangsung selama kurang lebih lima jam ini menewaskan delapan serdadu Belanda dan delapan pejuang lokal. Kisah heroik ini menjadi simbol perjuangan masyarakat Tellumpanua dalam mempertahankan kemerdekaan, dan kini menjadi bagian penting dari identitas sejarah daerah yang menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan yang tertarik pada nilai-nilai kepahlawanan dan sejarah lokal.
Website profil kelurahan merupakan situs web yang memuat informasi dasar mengenai kelurahan, sejarah, visi dan misi kelurahan, sampai dengan peta wilayah kelurahan.
Website ini dibuat oleh mahasiswa KKN Universitas Hasanuddin Gelombang 114 Kelurahan Tellumpanua pada Agustus 2025.
Situs web profil dibuat tujuan promosi dan publisitas Kelurahan Tellumpanua agar lebih dikenal oleh khalayak ramai, baik di dalam maupun di luar Kelurahan Tellumpanua.
© 2025 Kelurahan Tellumpanua - All rights reserved